"Aku ingin jadi Tki lagi" aku bisikkan kalimat itu pada Ibu ku,
"kalau mau jadi Tki, kenapa capekcapek sekolah dan kuliah" jawab nya singkat
aku terdiam.
bukan karena aku tak punya jawaban atas pernyataan Ibu ku, tapi aku terpana.
sebegitu kah rendah Predikat Tki.
Sedikit kembali keingatan beberapa tahun lalu, setelah kelulusan sekolah menengah atas, aku bicara pada ayah.. "aku mau ke negara tetangga, mau kerja disana"
dia marah dan mengatakan bahwa dia masih sanggup menyekolahkan ku..
aku terdiam, bukan karena aku tak punya jawaban atas pernyataan ayahku.
*waduh.. ingat ini kok jadi sedih..air mata tak tertahan lagi.. huhu.. cengeng!!!
Beberapa tahun setelah pembicaraan itu, aku telah melewati banyak hal dan belajar dari hal hal yang telah ku lewati.
namun keinginan menjadi tki itu tak begitu saja hilang, padahal aku telah menyelesaikan kuliah ku dan bergelar sarjana, dan telah beberapa kali kerja di kantoran. keinginan itu semakin kuat terasa pada tahun ini.
Setiap hari aku terus mengatakan hal itu pada Ibu ku.. sampai dia muak dan menyetujui nya..
akhirnya, keinginan itu benar benar terjadi, dan sungguh pengalaman yang berat. tapi aku menikmatinya..
Beberapa kerabat mempertanyakan kepergian ku itu, 'Kenapa seorang sarjana mau jadi tki?' bahkan tak sedikit yang merendahkan ku.. "Sarjana saja jadi Tki, apa guna nya sekolah tinggi tinggi"
Wah, kalimatkalimat itu bertubi-tubi menghujam telinga dan hati ku. Tapi ya, itu sungguh sangat membangun kepercayaan ku. Bahwa mereka justru tidak tau bagaimana sebenarnya hidup menjadi tki itu..
tanggapan banyak orang terhadap predikat tki itu memang bermacam macam. tapi tidak sedikit yang memandang sebelah mata, apa lagi tki yang tinggal di rumah sewa-bukan krja rumahtangga- banyak yang menganggap mereka hidup bebas dan tak ada aturan.
Kenyataan nya memang ada yang begitu, tapi tidak semua, bahkan hanya sedikit. itu semua tergantung pada kepribadian setiap orang, yang jahat memang ada, tapi yang baik juga pasti ada.
Dimana pun berada, itu tetap berlaku.
Ada lagi yang mengatakan padaku bahwa menjadi tki di malaysia itu merusak masa depan ku. Ya ampun, ini sungguh di luar logika ku, selama aku berada pada jalur yang benar, kenapa sampai merusak masa depan??
Entah lah, Pertanyaan "Hinakah menjadi tki?" ini sungguh tidak dengan mudah akan terjawab, karena terlalu banyak spekulasi yang terbentuk dari mulut mulut manusia. walaupun sebenarnya tki itu adalah bagian dari saudara mereka.
Yang pasti, aku sudah menjadi tki meskipun aku pernah kuliah dan bergelar sarjana. dan aku baik baik saja..
Akhirulkalam, Dimana pun kita berada harus Berfikir Positif dan Bertindak Positif maka kita akan mendapatkan hal hal positif seperti apa yang kita fikirkan.. :) *serius mode: on
Wassalam
No comments:
Post a Comment